Berita

Festival Seribu Bukung Kab.Lamandau Sukses Catat Rekor MURI

Diterbitkan pada tanggal 16 Oktober 2015

Masyarakat Kabupaten Lamandau patut berbangga karena Festival Seribu Bukung yang digelar pada 11 sampai 13 Oktober 2015 di Nanga Bulik Kab.Lamandau berhasil dan sukses tercatat di Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) dengan kategori Tari Topeng Terbanyak Se-Indonesia yaitu tercatat sebanyak 1.011 buah Bukung/topeng.

Selain Tari Babukung dari Suku Dayak Tomun Kab.Lamandau, pada Festival Babukung Tahun 2015 ini juga dimeriahkan dengan penampilan parade budaya dan kesenian dari suku yang ada di Kab.Lamandau seperti Suku Melayu, Suku Jawa, Suku Sunda, Suku Dayak Ngaju, Suku Dayak Dusmala, Suku Bali, Suku Toraja, Suku Batak, Suku Banjar, dan kesenian dari Flores NTT.

Wakil Bupati Lamandau mewakili Pemerintah Kab.Lamandau menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh panitia dan peserta Festival Babukung Tahun 2015 yang menurutnya telah lancar dan sukses dilaksanakan.

“Saya turut bangga dan terharu, melihat antusiasme masyarakat yang begitu tinggi dengan adanya kegiatan ini, yang salah satunya ditunjukkan dengan jumlah peserta dan penonton yang jumlahnya mencapai ribuan orang, ini menunjukkan adanya potensi sekaligus tingkat partisipasi masyarakat yang tinggi dimana ini merupakan modal bagi Kab.Lamandau didalam melaksanakan pembangunan di Bumi Bahaum Bakuba yang kita cintai ini”, ungkapnya saat memberi sambutan pada acara penutupan Festival Babukung Tahun 2015, Selasa (13/10) di halaman Kantor Bupati Lamandau.

Sehubungan dengan penyelenggaraan Festival Babukung tahun ini, ada beberapa catatan penting yang perlu diperhatikan sebagai bahan evaluasi pelaksanaan kegiatan ditahun selanjutnya, diantaranya bahwa kepada Panitia, Wakil Bupati Lamandau meminta kepada panitia agar segera melakukan evaluasi terhadap kegiatan ini sebagai bahan perbaikan kegiatan tahun depan, dan dokumen hasil evaluasi ini tetap tersimpan dengan baik, sehingga untuk tahun depan dapat dipergunakan dengan baik dari mulai sisi perencanaan, pelaksanaan, pengorganisasian peserta dan lain-lain. Terkait ada beberapa desa yang tidak mengirimkan wakilnya pada festival kali ini, Wakil Bupati meminta kepada Camat yang desanya tidak mengirimkan wakilnya untuk segera dievaluasi.

“Selanjutnya saya menginginkan pihak Disparsenibud Kab.Lamandau untuk melihat kegiatan Bidang Kebudayaan maupun Pariwisata yang sekiranya dapat kita kembangkan dan kita laksanakan secara rutin dan dapat kita gemakan seperti layaknya Festival Babukung ini. Selain itu, perlu pula pembinaan kepada para pengrajin Luha atau topeng bukung ini yang tentunya dalam pelaksanaan Festival Babukung ini kebanjiran order, jangan sampai mereka hanya mendapatkan penghasilan khusus hanya pada saat moment festival saja, untuk itu mereka perlu pendampingan dan selalu diberdayakan agar mereka dapat lebih maju, mandiri dan sejahtera”, tambahnya.

Setelah melakukan penilaian terhadap penampilan peserta dari desa-desa 8 Kecamatan dengan 12 kategori lomba (Bukung Naga, Bukung Burung, Bukung Sadap/Belanda, Bukung Tingang, Bukung Pengua, Bukung Hundang, Bukung Kompadi, Bukung Bamba, Bukung Lelawar, Bukung Buaya, Bukung Rusa dan Bukung Barun), Tim Juri yang terdiri dari Juri Lokal yaitu Damang 8 Kecamatan dan Juri Tamu yaitu dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Institut Seni Indonesia  (ISI) Yogyakarta, dan Seni Murni/Seni Grafis FSRD UNS Surakarta, memutuskan bahwa yang keluar sebagai Juara Umum (1) adalah Kecamatan Delang, Juara II Kecamatan Lamandau, dan Juara III diperolah Kecamatan Menthobi Raya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *